SATUinco melaksanakan perjalanan tirtayatra ke Pura Luhur Giri Salaka, kawasan Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, pada 5 September 2026. Perjalanan spiritual ini menjadi momentum untuk memaknai kebersamaan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan beragama dan budaya. Di tengah berbagai aktivitas sehari-hari, tirtayatra menghadirkan kesempatan untuk mengambil jeda, menata pikiran, serta mengingat kembali pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan, hubungan antarsesama, dan kehidupan spiritual.
Pura Luhur Giri Salaka berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Pura ini merupakan tempat ibadah umat Hindu yang juga memiliki nilai budaya. Keberadaannya di dalam kawasan konservasi memberikan konteks tersendiri bagi perjalanan tirtayatra: hubungan dengan Tuhan berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap alam dan kehidupan di sekitarnya.

Bagi umat Hindu, perjalanan menuju tempat suci memiliki makna yang melampaui perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. Tirtayatra merupakan kesempatan untuk memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Perjalanan tersebut juga dapat menjadi ruang perenungan tentang cara menjalani kehidupan dengan lebih sadar, termasuk dalam menjaga sikap, menjalankan kewajiban, serta memperlakukan orang lain dengan hormat.
Dalam konteks SATUinco, kegiatan ini dapat dimaknai sebagai bagian dari upaya merawat hubungan antarmanusia di lingkungan organisasi. Kebersamaan tidak selalu dibangun melalui rapat, pencapaian target, atau penyelesaian pekerjaan. Ada pula ruang untuk saling mengenal melalui pengalaman bersama yang menyentuh sisi personal dan spiritual. Perjalanan tirtayatra memberikan kesempatan untuk melihat hubungan tersebut dalam suasana yang berbeda dari rutinitas kerja.
Makna perjalanan juga terletak pada kesediaan untuk hadir dan memberi perhatian. Ketika menjalani kegiatan bersama, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar memahami kebutuhan orang lain, menjaga komunikasi, dan menumbuhkan kepedulian. Nilai-nilai sederhana tersebut memiliki arti penting bagi kehidupan organisasi karena hubungan yang sehat tumbuh dari sikap saling menghargai yang dilakukan secara konsisten.
Pura Luhur Giri Salaka menjadi tujuan yang mempertemukan dimensi spiritual, budaya, dan lingkungan. Sebagai tempat ibadah yang masih digunakan umat Hindu, kesucian pura perlu dihormati oleh setiap pengunjung. Sikap tertib, tutur kata yang baik, serta perhatian terhadap ketentuan setempat merupakan bagian dari penghormatan tersebut. Dengan demikian, perjalanan ke tempat suci juga mengandung pembelajaran tentang tanggung jawab dalam membawa diri.
Lingkungan Alas Purwo turut memberikan ruang untuk memikirkan hubungan manusia dengan alam. Kawasan konservasi mengingatkan bahwa kehidupan tidak berdiri sendiri. Manusia berbagi ruang dengan tumbuhan, satwa, dan berbagai unsur lingkungan yang saling berkaitan. Kesadaran ini sejalan dengan pentingnya menjaga kebersihan, mengurangi sampah, serta menghormati kawasan yang dikunjungi.
Perjalanan spiritual juga membuka kesempatan untuk meninjau kembali arti rasa syukur. Di tengah tuntutan pekerjaan dan berbagai rencana, perhatian sering tertuju pada hal-hal yang belum tercapai. Tirtayatra dapat menjadi pengingat untuk menghargai kesehatan, kesempatan berkarya, dukungan keluarga, dan hubungan baik yang telah dimiliki. Rasa syukur tersebut menjadi bekal untuk menghadapi tanggung jawab berikutnya dengan pikiran yang lebih jernih.
Selain rasa syukur, kerendahan hati merupakan nilai yang relevan untuk direnungkan. Setiap pencapaian melibatkan banyak pihak dan tidak dapat dilepaskan dari bantuan orang lain. Kesadaran ini membantu menempatkan keberhasilan secara proporsional. Dalam kehidupan bersama, kerendahan hati mendorong keterbukaan untuk mendengar, menerima masukan, serta mengakui kontribusi rekan yang turut mendukung sebuah proses.
Nilai spiritual memiliki hubungan erat dengan integritas dalam bekerja. Kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab memperoleh makna ketika diwujudkan melalui tindakan sehari-hari. Pengalaman tirtayatra dapat menjadi pengingat bahwa kualitas pekerjaan tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari cara hasil tersebut dicapai. Menjaga kepercayaan membutuhkan keselarasan antara ucapan, keputusan, dan perbuatan.
Kebersamaan dalam perjalanan juga memberi ruang bagi tumbuhnya empati. Setiap orang memiliki pengalaman, tantangan, dan cara pandang yang berbeda. Dengan memberi kesempatan untuk saling memahami, hubungan dapat berkembang lebih hangat. Empati tersebut penting dibawa kembali ke lingkungan kerja agar komunikasi berlangsung dengan lebih terbuka dan penyelesaian persoalan dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Tanggal 5 September 2026 menjadi penanda perjalanan SATUinco menuju salah satu tempat suci di Banyuwangi. Namun, makna kegiatan tidak berhenti pada tanggal pelaksanaan atau lokasi tujuan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi sikap setelah perjalanan berakhir. Kepedulian, ketertiban, dan rasa hormat akan memiliki dampak ketika terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tirtayatra juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan. Kesungguhan dalam bekerja perlu disertai perhatian terhadap kesehatan, keluarga, kehidupan sosial, dan kebutuhan spiritual. Keseimbangan membantu seseorang menjalankan peran dengan lebih utuh. Jeda untuk merenung dapat memberikan perspektif baru terhadap persoalan yang sebelumnya terasa mendesak atau menyita perhatian.
Melalui perjalanan ke Pura Luhur Giri Salaka, terdapat kesempatan untuk menghubungkan pengalaman spiritual dengan semangat kebersamaan. Penghormatan terhadap tempat suci, kepedulian terhadap lingkungan, dan perhatian kepada sesama merupakan nilai yang saling melengkapi. Ketiganya dapat menjadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih baik, baik di dalam organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Tirtayatra SATUinco ke Alas Purwo menjadi pengingat bahwa perjalanan yang bermakna bukan hanya tentang mencapai tujuan. Ada proses belajar, refleksi, dan penghargaan terhadap kehidupan yang menyertainya. Dari Banyuwangi, semangat tersebut dapat dibawa kembali sebagai bekal untuk melanjutkan aktivitas dengan rasa syukur, tanggung jawab, serta komitmen untuk menjaga kebersamaan.


